Perhutani KPH Majalengka dan Disparbud Teliti Situs Gunung Ageung Jejak Peradaban Megalitikum

Lingkungan Tanggal: 2026 - 05 - 11 52 views Penulis: Ikhsan Fahriawan
Perhutani KPH Majalengka dan Disparbud Teliti Situs Gunung Ageung Jejak Peradaban Megalitikum
MAJALENGKA, PERHUTANI (11/05/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Majalengka bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka melaksanakan penelitian Situs Gunung Ageung yang diduga merupakan jejak peradaban kuno tradisi megalitikum. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Cipasung dan kawasan hutan Petak 10 RPH Lemahsugih, BKPH Talaga, KPH Majalengka, Rabu (07/05).

Kegiatan tersebut dihadiri KSS K3L Vikri, Asper/KBKPH Talaga Ronal, Tim Ahli Cagar Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka Endra, juru kunci Gunung Ageung Dode dan Heri, serta tokoh masyarakat Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka.

Keberadaan Situs Gunung Ageung telah lama dikenal masyarakat setempat. Bahkan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah memasang papan penanda resmi yang menjelaskan kawasan tersebut sebagai peninggalan tradisi megalitik dengan sejumlah titik penting bernilai sejarah.

Beberapa lokasi yang berada di kawasan Gunung Ageung di antaranya Sanghyang Pamangkatan, Sanghyang Prabu Siliwangi, Sanghyang Ujung Kulon, Sanghyang Peti, dan Sanghyang Bedil. Nama-nama tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat Sunda pada masa lampau.

Secara terpisah, Administratur/Kepala KPH Majalengka, Suparno, menyampaikan dukungannya terhadap proses penelitian dan kajian yang dilakukan Tim Ahli Cagar Budaya bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka di Situs Gunung Ageung. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung penetapan situs sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting bagi Kabupaten Majalengka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Rachmat Kartono, menyampaikan apresiasi atas dukungan Perhutani dalam kegiatan penelitian tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah penting dalam upaya perlindungan situs sekaligus membuka peluang penelitian lebih mendalam mengenai jejak peradaban megalitikum di Kabupaten Majalengka. (Kom-PHT/Mjl/@Barn)